Sore ini aku melihat mentari begitu lemah sinarnya.....
Mentari yang biasanya sangat terik dan galak menyengat siapa saja yang menantangnya, kini selalu diam bersembunyi di balik awan hitam yang pekat...
Setelah kemarin seharian mentari istirahat dan hanya menyaksikan hujan turun dengan lebatnya...
hasilnya semua pembantu rumah tangga berteriak, karena cucian mereka tidak kering.
pengemudi mobil was-was karena genangan air di mana-mana...
Sebagian berteriak lebih kencang, karena rumahnya tergenang air dan sebagian kawasan sudah terendam air.
Memang mentari tidak bisa disalahkan,
saatnya mentari bersinar sangat teriknya manusia pun komplen....
saat hujan turun tanpa hentinya, manusia kembali komplen......
saat banjir melanda karena tiada saluran pembuangan air, manusia yang kesusahan juga masih komplen.
Sore ini sang mentari kembali menunjukan sinarnya...
tapi suasana begitu sepi......
Bila mentari di hati kita juga terus bersinar, begitu indahnya menyinari pohon-pohon kebajikan yang ada di ladang hati.
Bila Hujan penyejuk jiwa turun pada waktunya, menyirami bibit-bibit kebijaksanaan agar selalu tumbuh dengan suburnya.
Bila pelangi hati kita memberikan warna-warninya ia akan memperindah suasana,
Bila banjir kasih dan air mata bahagia membasahi diri ini, duni ini akan terasa begitu indah.
Bila awan mendung perlahan sirna dari bathinmu maka disana kau temui awan putih bersih nan damai.
Bila bathinmu terasa sepi...
inilah saat yang baik untuk berdiam diri, tidak bicara, tidak bergosip, tidak marah-marah, tidak ngomel-ngomel, tidak merengek-rengek, dan tidak termehek-mehek...
Saatnya mengenal diri sendiri, menikmati suasana hati....
kapan lagi bisa ada waktu khusus untuk diri sendiri.....
sepi bukan berarti mencekam..
sepi adalah saatnya mengheningkan sang diri... biarlah Sang Bathin beristirahat sejenak dari kelelahannya dalam menjalani hidup yang hiruk pikuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar